By admin /

Pemeriksaan neurologis tingkat kesadaran sangat penting untuk menilai secara komprehensif pasien anak sakit kritis, dan dapat memberikan informasi. Demam pada anak Download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd .. Epilepsi. Uploaded by. Mahesa Ramadhianto. Cutaneus Larva Migrans. Klasifikasi Bangkitan Epilepsi and Penjelasannya dalam Epilepsi. (Ed. II). IDAI, Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam, Unit Kerja Koordinasi Neurologi, IDAI Penatalaksanaan Muthakhir Kejang Pada Anak.

Author: Shakataur Kagajin
Country: Uzbekistan
Language: English (Spanish)
Genre: Life
Published (Last): 21 December 2004
Pages: 263
PDF File Size: 14.11 Mb
ePub File Size: 16.92 Mb
ISBN: 711-4-66540-329-8
Downloads: 36842
Price: Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader: Niktilar

Status Epileptikus Home Status Epileptikus.

Dewi Rezer & Marcelino Lefrandtr : Liburan Tak Harus Mahal

Status Epileptikus status epileptikus. LP Status Epileptikus maternityFull description.

Status Epileptikus Perdossi algoritma status epileptikus pada dewasa menurut perdosiFull description. LP Status Epileptikus laporan pendahuluan dan asuhan keperawatan klien dengan status epileptikus.

Status Epileptikus

Status Epileptikus Non Konvulsif kajian epilepsi. Referat Status Epileptikus subdivisi neurologi. LP Status Epileptikus lc. Makalah Status Epileptikus Makalah ini milik kelas F. Status Quo – Ieai Quo Tabs book. Status Okupasi low back pain. Definisi Status epileptikus adalah kondisi kejang berkepanjangan mewakili keadaan darurat medis dan neurologis utama. International League Against Epilepsy mendefinisikan status epileptikus sebagai aktivitas kejang yang berlangsung terus menerus selama 30 menit atau lebih Nia Kania, Secara sederhana dapat dikatakan bahwa jika seseorang mengalami kejang persisten atau seseorang yang tidak sadar kembali selama lima menit atau lebih,harus dipertimbangkan sebagai status epileptikus.

Pasien dengan idiopatik epilepsi mempunyai inteligensi normal dan hasil pemeriksaan anam normal dan umumnya ank genetik. Dianggap simptomatik tapi penyebabnya belum diketahui. Kebanyakan lokasi yang berhubungan dengan epilepsi tanpa disertai lesi yang mendasari atau lesi di otak tidak diketahui. Termasuk disini adalah sindroma West, Ppada Lennox Gastaut dan epilepsi mioklonik.

Gambaran klinis berupa ensefalopati difus. Pada simptomatik terdapat lesi struktural di otak yang mendasari, contohnya oleh karena sekunder dari trauma kepala, infeksi susunan saraf pusat, kelainan konge nit, proses desak ruang di otak, gangguan pembuluh darah diotak, toksik alkohol dan obatgangguan dan kelainan neurodegeneratif. Kustiowati dkkSirven, Ozuna C.

Klasifikasi Klasifikasi status epileptikus penting untuk penanganan yang tepat, karena penanganan yang efektif tergantung pada tipe dari status epileptikus. Pada umumnya status epileptikus dikarakteristikkan menurut lokasi awal bangkitan — area tertentu dari korteks Partial onset atau dari kedua hemisfer otak Generalized onset -kategori utama lainnya bergantung pada pengamatan klinis yaitu, apakah konvulsi atau non-konvulsi.

Tahun International League Against Epilepsy ILAE membuat suatu klasifikasi internasional mengenai kejang dan epilepsi yang membagi kejang menjadi 2 golongan utama: Serangan parsial dimulai pada satu area fokal di korteks serebri, sedangkan serangan umum dimulai secara simultan di kedua hemisfer. Serangan lain yang sulit digolongkan dalam satu kelompok dimasukkan dalam golongan tak terklasifikasikan unclassified. ILAE kemudian membuat klasifikasi yang diperbarui menggunakan diagnosis multiaksial pada tahun ,kemudian disempurnakan lagi pada tahunnamun klasifikasi tahun tetap masih sering digunaka.

Kustiowati dkk D. Gambaran Klinis Pengenalan terhadap status epileptikus penting pada awal stadium untuk mencegah keterlambatan penanganan. Tanda Khas Epilepsi Parsial Sederhana Aktivitas motorik merupakan gejala yang paling lazim pada epilepsi parsial sederhana.

  AMERICAN HANDGUNNER MAGAZINE PDF

Gerakan ditandai dengan gerakan klonik atau tonik yang tidak sinkron, dan mereka cenderung melibatkan wajah, leher dan tungkai. Kejang versify terdiri atas pemutaran kepala dan gerakan mata pafa adalah sangat lazim. Rata —rata kejang berlangsung selama 10 —22 detik. Kejang parsial sederhana dapat terancukan dengan gerenjit ticnamun gerenjit ditandai dengan pengangkatan bahu, mata berkedip —kedip dan wajah menyeringai serta terutama melibatkan diai dan bahu.

Gerenjit dapat tertekan sebentar, tetapi kejang parsial tidak dapat dikendalikan. EEG anqk menunjukkan gelombang paku atau gelombang abak unilateral atau bilateral, atau gambaran paku multifokal pada penderita dengan kejang parsial sederhana, gelombang idqi ombak di daerah temporal tengah daerah Rolandik.

Jenis kdai ini mempunyai kekhususan tersendiri, yaitu prognosisnya baik. Serangannya mudah diobati, dicegah dengan antikonvulsan, dan umumnya akan sembuh pada umur 15 tahun. Ciri dan jenis epilepsy ini adalah: Serangan pertama biasa terjadi antara usia 5 —10 tahun. Serangan terutama terjadi sewaktu tidur. Respon terhadap obat antikonvulsan baik. Sumber focus epilepsinya adalah di daerah temporal tengah, f. Serangan —serangan kejang akan menghilang atau berhenti bila mencapai usia remaja, demikian juga halnya dengan gelombang paku di daerah temporal tengah yang terlihat pada pemeriksaan EEG akan menghilang.

Anak dengan jenis epilepsy ini mempunyai inteligensi, tingkah laku,dan kemampuan bersekolah yang tidak berbeda dengan populasi umum. Jenis epilepsy ini cukup sering dijumpai. Kejang ini dapat didahului oleh kejang parsial sederhana dengan atau idzi aura, disertai dengan kdai kesadaran atau sebaliknya, mulainya kejang parsial kompleks ini dapat bersama dengan keadaan kesadaran yang berubah. Aura terdiri dari rasa tidak enak, samar —samar, sedikit rasa tidak enak epigastrium, atau ketakutan pada sekitar sepertiga anak.

Kejang parsial ini sukar didokumentasikan pada bayi dan anak, frekuensi hubungannya dengan kejang parsial kompleks mungkin kurang terestimasi.

Kesadaran terganggu pada anak dan bayi sukar dinilai. Kejang parsial kompleks yang disertai gelombang tajam atau paku —paku setempat EEG antar kejang lobus temporalis anterior, dan pakumultifokus merupakan temuan yang sering.

Daerah yang terkena kejang parsial kompleks lebih luas dibandingkan dengan kejangparsial sederhana dan biasanya didahului dengan aura F. Idiopatik – Fraktur – Tromboplebitis G. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan EEG umumnya membantu dalam mengklasifikasikan tipe epilepsi seseorang.

Pasien jarang mengalami kejang selama pemriksaan EEG rutin. Namun kejang tetap dapat memberikan konfirmasi tentang kehadiran aktifitas listrik yang epllepsi, informasi tentang tipe gangguan kejang, dan lokasi spesifik kejang fokal.

EEG sebenarnya bukan merupakan tes untuk menegakkan diagnosa epilepsi secara langsung. EEG hanya membantu dalam penegakan diagnosa dan membantu pembedaan antara kejang umum dan kejang paea. Tetapi yang harus diingat: Dengan kata lain, EEG dapat memberikan hasil yang berupa positif palsu maupun negatif palsu, dan diperlukan kehati-hatian dalam menginterpretasinya. Perekaman EEG yang dilanjutkan pada pasien dengan aktifitas yang sangat berat dapat sangat membantu dalam penegakan diagnosis dengan kasus yang sangat sulit dengan serangan yang sering, karena memperlihatkan gambaran selama serangan kejang terjadi.

Pencitraan otak, lebih sering digunakan MRI daripada CT Scan, adalah bagian yang penting dari penilaian epilepsi tipe fokal, dan di beberapa kasus epilepsi tipe yang tidak menentu. Mungkin tidak begitu penting pada pasien kejang umum yang telah dikonfirmasi dengan EEG. Pemeriksaan lainnya seperti glukosa, kalsium, dan ECG jarang memberikan informasi yang dibutuhkan. Sulitnya menegakkan diagnosis epilepsi dengan bantuan pemeriksaan di abak, memaksa seorang pemeriksa harus meneliti gejala klinis secara seksama untuk menegakkan diagnosa dengan tetap memperhatikan hasil dari pemeriksaan Ppada.

  J2534 PROTOCOL PDF

Pengkajian Data fokus yang perlu dikaji 1.

Riwayat penyakit yang diderita pasien saat masuk RS apa yang terjadi selama serangan c. Riwayat kesehatan yang lalu: Disertai eplepsi motorik seperti idak tonik, klonik, mioklonik, atonik, berapa lama gerakan tersebut? Apakah pasien jatuh kelantai b Proses Serangan: Apakah pasien letarsi, bingung, sakit kepala, gangguan bicara, hemiplegi sementara, ingatkah pasien apa yang terjadi sebelum selama dan sesudah serangan, adakah perubahan tingkat kesadaran, evaluasi kemungkinan terjadi cidera selama kejang memer, luka gores 3 Sistem Pernafasan: Pola Fungsi Kesehatan a.

Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan Pemahaman pasien dan keluarga mengenai program pengobatan pasien, keamanan lingkungan sekitar b. Pola Aktivitas dan Latihan Pemahaman klien tentang aktivitas yang aman untuk pasien minimal resiko cidera pada saat serangan c. Pola Nutrisi Metabolisme Pasca serangan biasanya pasien mengalami nansea d. Pola Eliminasi Saat serangan dapat terjadi inkontinensia urin dan atau feses e. Pola kognitif dan Perseptual Adakah gangguan orientasi, pasien merasa dirinya berubah g.

Persepsi diri atau konsep diri Pentingnya pemahaman dengan berobat teratur dapat terbebas dari sawan h. Pola toleransi dan koping stress Adakah stress dan gangguan emosi i. Pola sexual reproduksi j.

Dewi Rezer & Marcelino Lefrandtr : Liburan Tak Harus Mahal |

Pola hubungan dan peran k. Pola nilai dan kenyakinan 3. Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada klien dengan epilepsy antara lain: Resiko aspirasi berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran sekunder terhadap kejang 2 Resiko trauma pada saat serangan berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran dan kejang tonik-klonik 3 Koping defensif berhubungan dengan respon terhadap hal-hal sekunder terhada epilepsy 4 Defisit pengetahuan tentang penyakit, pengobatan dan perawatan pasien berhubungan dengan keterbatasan kognitif, kurang paparan atau mudah lupa 5 Potensial komplikasi: Kaji tingkat kemampuan klien sekunder ter-hadap selama Kaji status pernapasan, pertahankan jalan napas 3.

Jaga kesiapan alat suction 5. Potong makanan dalam bentuk kecil agar mudah ditelan – Klien mengatakan cara-cara untuk Airway suctioning mencegah aspirasi 1.

Auskultasi suara napas klien – Kebersihan mulut sebelum dan sesudah suction kolien terjaga – Tidak ada tanda-tanda tejadinya aspirasi 2. Anjurkan klien untuk napas dalam para dilakukan suction, anjurkan untuk ivai 4. Beri tambahan oksigen selama padda 5. Monitor status oksigen dan hemodinamik klien 6. Hentikan suction dan beri tambahan oksigen jika klien bradikardi 7. Kirim bahan sekret untuk kultur dan tes sensitifitas 8. Jelaskan pada klien dan keluarga mengenai prosedure dan anka suction Positioning 1.

Tempatkan klien pada posisi yang tera-peutik: Pertahankan pada posisi miring jika tidak merupakan kontra indikasi cidera 2. Pertahankan posisi miring setelah makan 2. Resiko trauma pada Setelah dilakukan Environmented Management saat serangan b.